Senin, 21 Mei 2012

Dear you


Dear  you . . .
Senin, 19 January 2012

Teruntuk seseorang yang pernah ku sakiti.
Teruntuk seseorang yang kecewa dengan tingkahku selama ini,
untuk dia yang terus berdiam diri,
untuk seseorang yang pernah mengisi namanya dihatiku ini.

wahai engkau yang pernah tersakiti,
atas kezaliman kaumnya dan Allah pun memperingatkan Yunus, “Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.”

Dulu kita pernah berteman baik sekali, hingga aku pun mengerti kapan kau akan sakit dalam tiap-tiap bulanmu. Dulu engkau begitu pengasih, hingga tahu betapa aku menginginkan sesuatu dan engkaupun memberikannya. Dulu, kita berdua begitu baik.

Namun mengapa setelah datang kebaikan, timbul keburukan?

Sedari awal, aku telah memaafkanmu. Bahkan aku merasa, kesalahanmu di mataku adalah akibat salahku. Aku yang memulai menanam anginnya. Dan aku melihat badai di antara kita. Badai dingin yang amat begitu menyesakkan. Paling tidak untukku . . .
Jangan takut jika engkau khawatir perasaan cinta yang dulu melekat akan kembali timbul. Aku bukanlah seorang baiquni seperti yang dulu lagi. Aku telah mengubah sudut pandangku tentang seseorang yang layak aku cintai. Aku sekarang sedang mencari …

Ingin aku bercerita kepadamu, kandidat-kandidat pangeranku

Mengapa setelah habis cinta timbul beribu kebencian ? Mengapa tidak mencoba membuka hati untuk seteguk rasa maaf ? Jujur, bukan dirimu saja yang tersakiti, namun aku juga. Namun aku mencoba membuang semua sakit yang begitu menyobek hati.
Andai engkau tahu wahai engkau yang pernah kusakiti.
Pernahkah engkau menangis karenaku seperti aku menangis karenamu? Seperti aku terisak dihadapanmu.
Pernahkah?
Mungkin dirimu telah menemukan seseorang yang begitu engkau sayangi. Seseorang yang mampu membangkitkan hidupmu lagi,. Tetapi aku? Pernahkah engkau berpikir betapa hal yang engkau lakukan terhadapku begitu berdampak laksana katrina. Bahkan setelah itu aku masih memaafkanmu, bahkan aku menunduk memintamu memaafkan aku.

Sudah menjadi tuhan kecilkah dirimu?
Bahkan Tuhan saja memaafkan.

Tahukah wahai engkau yang pernah tersakiti,
betapa aku meneteskan air mata saat menulis ini. Betapa aku seolah pendosa laksana iblis yang terkutuk.
Apakah engkau mengerti apa yang kurasakan? Mengertikah dirimu?
Tak pernah ada manusia yang luput dari suatu kekhilafan. Tidak aku, tidak juga kamu
wahai engkau yang pernah tersakiti. Maka, bukalah pintu maafmu itu.
Untuk surat ini,
untuk kekhilafanku yang lampau,
untuk kenangan yang membuatmu sakit,
untuk segala sesuatu tentang kita, aku minta maaf.
ASA Q
catatansang farmasis mengatakan...
Aku bisa merasakan sakitmu..
seperti ketika permintaan maafaanku pada seseorang yang hanya di balas dengan diam...
tahukah... mengapa 'diam' itu justru bertambah menyakiti?
karena aku tahu
dia tak bisu,
dia pun tak tuli untuk sekedar mendengar pinta maafku..
pun justru kulihat ia meninggalkanku sembari menyapa di sekelilingnya…
seolah tak pernah terjadi sesuatu...
tapi lirikan mata tajamnya yang sejenak..
seolah berkata. "maaf itu tak pernah ada"...
aahhh sudahh benar2 menjadi tuhan kecilkah dirimu? :'(
~Deep Soul~

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates