wahai engkau yang pernah tersakiti,
Dulu kita pernah berteman baik sekali, hingga aku pun mengerti kapan kau akan sakit dalam tiap-tiap bulanmu. Dulu engkau begitu pengasih, hingga tahu betapa aku menginginkan sesuatu dan engkaupun memberikannya. Dulu, kita berdua begitu baik.
Namun mengapa setelah datang kebaikan, timbul keburukan?
Sedari awal, aku telah memaafkanmu. Bahkan aku merasa, kesalahanmu di mataku adalah akibat salahku. Aku yang memulai menanam anginnya. Dan aku melihat badai di antara kita. Badai dingin yang amat begitu menyesakkan. Paling tidak untukku . . .
Jangan takut jika engkau khawatir perasaan cinta yang dulu melekat akan kembali timbul. Aku bukanlah seorang baiquni seperti yang dulu lagi. Aku telah mengubah sudut pandangku tentang seseorang yang layak aku cintai. Aku sekarang sedang mencari …
Mengapa setelah habis cinta timbul beribu kebencian ? Mengapa tidak mencoba membuka hati untuk seteguk rasa maaf ? Jujur, bukan dirimu saja yang tersakiti, namun aku juga. Namun aku mencoba membuang semua sakit yang begitu menyobek hati.
Mungkin dirimu telah menemukan seseorang yang begitu engkau sayangi. Seseorang yang mampu membangkitkan hidupmu lagi,. Tetapi aku? Pernahkah engkau berpikir betapa hal yang engkau lakukan terhadapku begitu berdampak laksana katrina. Bahkan setelah itu aku masih memaafkanmu, bahkan aku menunduk memintamu memaafkan aku.
Sudah menjadi tuhan kecilkah dirimu?
Tahukah wahai engkau yang pernah tersakiti,
Tak pernah ada manusia yang luput dari suatu kekhilafan. Tidak aku, tidak juga kamu
seperti ketika permintaan maafaanku pada seseorang yang hanya di balas dengan diam...
tahukah... mengapa 'diam' itu justru bertambah menyakiti?
karena aku tahu
tapi lirikan mata tajamnya yang sejenak..
seolah berkata. "maaf itu tak pernah ada"...
aahhh sudahh benar2 menjadi tuhan kecilkah dirimu? :'(


0 komentar:
Posting Komentar