Sabtu, 28 Januari 2012

luv in Maya


Love in Maya
Hei,Riz ko’ senyum-senyum sendiri sih. Jangan-jangan kamu sudah kena penyakit gila?” godaku pada Faris , teman se-kost yang sedang tersenyum-senyum simpul sambil memandangi layar monitornya. “sembarangan aja kamu, ini loch aku dapet  temen chat yang menggelikan.” Aku bangkit dari kursi. Penasaran. “siapa sih?” tanyaku pada Faris sambil kulongokan kepalaku memandang layar monitor.
(fariz) assalamu’alaikum
(Starla_zhyvana) wa’alaikumussalam, apa kabar?
(fariz)Alhamdulillah baik. Asl, pls ukhti?
(Starla_zhyvana) apakah perlu?kita kan bisa komunikasi tanpa harus berkenalan kan akhi?
(fariz) ana rasa itu kurang bagus
(Starla_zhyvana )kenapa?
(fariz) umur menurut ana sangat penting. Berbicara dengan mahasiswa tentu tidak sama dengan anak TK. Kan tidak mungkin ana berdiskusi dengan anakTK.
(Starla_zhyvana) mungkin saja. Mendingan diskusi sama anak TK tapi nyambung daripada diskusi sama mahasiswa tapi gak nyambung.
(fariz) ok dech klo begitu. Anti bener-bener masih TK ya?
(Starla_zhyvana)anak Tk? Boleh juga
(fariz) dipanggil adek TK aja klo begitu ya…
 (Starla_zhyvana) boleh, kesannya malah ana masih imut…
“riz, siapa dia?”
“aku juga gak tau.”
“ngomongnya ko’ dah pake’ Ana-akhi. Jangan-jangan dia udah akhwat.”
Ya…emang dia akhwat.masa’ ikhwan sih?!”
Aku serius Riz.”
Fariz hanya tersenyum.
“Ati-ati Riz.Godaan syetan bertebaran dimana-mana lho. Apalagi klo Adam sudah berhadapan dengan Hawa.” Kutepuk pundak Fariz yang masih menekan-nekan keyboardnya.
* * *
Dan,Zidan…bangun donk. Ada hal penting nih.” Kurasakan tubuhku di guncang-guncang. Aku membuka mata yang baru tertutup beberapa menit yang lalu.
“ada apa,Riz dah waktunya shalat malem ya?”
“bukan.pokoknya gawat dech. Bangun donk.”
“kamu ini, klo bangunin orang pake’ sopan santun sedikit kenapa sih…”
dengan rasa kantuk yang masih menggelayuti mata, aku bangkit dari tempat tidur. ”ada apa?”
“sini…” fariz berjalan kea rah komputernya. Mau tak mau, akupun mengikuti langkahnya.
Ketika tiba didepan computer, Aku menajamkan pandanganku.
“Aku mencintaimu!” “apa jawaban kakak?”
Lama aku menatap tulisan berwarna purple di monitor. Kukucek-kucek mata dengan kedua tangan karna tak yakin dengan apa yang kulihat. Aku menoleh kea rah fariz yang ada disampingku.
“dari siapa Riz, adik TK mu ya?”
Fariz hanya mengangguk.
Adik Tk nya fariz adalah seorang muslimah asal solo yang kuliah di salah satu perguruan tinggi negri disana. Mengambil jurusan psikologi yang baru menempuh semesrter 3.
Pada awalnya Fariz berkenalan dengannya lewat chating beberapa waktu yang lalu dan terus berlanjut dengan saling berkirim email. Pada awalnya email yang dia tulis biasa-biasa aja. Menanyakan arti Mushtalahat Arab yang tak diketahuinya dan terkadang minta tausiah.
Ko’ aku tahu? ya...karna fariz mempercayaiku untuk ikut membaca email-email yang dikirimkannya. Sering juga fariz baru membalas emailnya setelah meminta saranku. Namun, akhir-akhir ini email yang dikirim adik TK nya udah agak lain, emailnya sering bertanya tentang pandangan fariz mengenai dunia muslimah. Dan puncak dari keanehan itu adalah email yang terakhir ini.
“sudah kamu balas Riz?”
Fariz menggeleng. Aku kembali melihat wajah faris yang masih terbengong-bengong.
“tenang aja Riz. Tak usah seserius itu.” Aku menepuk pundaknya, mencoba mengalirkan kekuatan kepadanya untuk tetap segar. Faris meringai.
Ya…maklum aja, Dan. Baru kali ini aku dapetyang beginian. Menurutmu bagaimana aku harus membalasnya?”
“menurutku, kamu jawab sesuai yang ada di fikiranmu. Tapi yang penting tidak menyimpang dari ajaran-ajaran islam.”
Fariz menganggukan kepala.
 Assalamu’alaikum,adik Tk…
Terus terang ada surprise tersendiri membaca email adik yang singkat tapi penuh makna. Sulit untuk kakak memahami jawaban seperti apa yang adik maksudkan. Tapi akan kakak coba.
Adik mencintai kakak ya? Menurut kakak itu wajar. Dan wajar pula jika seorang kakak juga mencintai adiknya. Kakak rasa, tidak ada yang luar biasa. Namun tetap saja kakak masih bingung. Mengapa adik harus mengungkapkannya pada kakak? Apakah semua itu harus diungkapkan?
Adik TK,cinta pertama yang harus kita patri dalam sanubari adalah ci nta kepada Allah dan Rasulnya. Adik tentu pernah membaca tentang kisah para sahabat tentang perang uhud?mereka menjadikan tubuh mereka tameng untuk menghalangi senjata-senjata kaum musyrikin yang akan mengenai tubuh Rasulullah. Ada juga shahabiyah yang suami,anak,dan saudaranya syahid bersamaan dalam satu peperangan. Tapi ia slalu menanyakan bagaimana keadaan Rasulullah. Ketika dia tau Rasulullah selamat, dia berkata:”seluruh musibah terasa ringan setelah melihat dirimu.”
Adik Tk, merekalah uswah kita dalam cinta. Cinta Allah danRasulNya telah memenuhi seluruh ruang dalam hati mereka walaupun mereka tetap tidak menafikan cinta kepada sesame muslim.
Aku haya menggeleg membaca kalimat demi kalimat Fariz.
 “bagaimana Dan?”
“masih rentan fitnah,apalagi kalimat terakhirnya.”
“tapi Dan aku harus menjawab emailnya. Atau aku fikir sebaiknya aku diam saja? Tapi Dan, di room dia lihat aku aktif diskusi. Kan gak sopan jika aku membiarkannya begitu saja. Aku takut dia menyangka yang nggak-nggak,” jawab fariz sedikit emosi. Aku terdiam. Mendebatnya dalam suatu hal yang dia yakini kebenarannya hanya akan menambah dia semakin mempertahankan diri.
* * *
Semenjak email terakhir itu terkirim, wajah Fariz mulai menampakkan wajah yang lain. Ya,walaupun ia masih rutin ke masjid 5 waktu, tilawah 1 juz perhari serta baca al-ma’tsurat pagi sore, namun jadwal online nya jadi bertambah.
“Dan, shalatku rasanya gak bisa khusyu’. Aku selalu teringan dengan dia. Walaupun aku tak pernah melihat wajahnya,tapi dari kata-katanya,tutur bahasanya, dan nasihat-nasihatnya seakan aku bisa merasakan bahwa sebenarnya dia ada di depanku. Aku bisa melihat keceriaan diwajahnya, binar matanya, dan…ah…” ujar Fariz kepadaku suatu saat.
Astaghfirullah! Istighfar Riz…
Sampe’ separah itu kah? Tanyaku.
Fariz mengangguk,
Aku sadar, sejak awal aku sudah khawatir komunikasi mereka akan mendekati ambang-ambang batas yang membahayakan. Apalagi dengan kondisi Fariz yang sekarang. Hampir sebulan ini tak lagi ikut kajian rutin. Padahal itu adalah sarana efektif untuk stabilitas keimanan. Walau rutinitas amal hariannya ku akui masih berjalan normal, tapi ada sisi-sisi penting dari diri Fariz yang hilag. Dan aku sebagai teman hanya bisa mendo’akan dan menasihatinya. Dengan kondisinya sekarang, nasihat-nasihat pun hanya seperti angin berlalu. Hanya saja kadang-kadang dia ingin didengarkan dan diberi semangat.
“apakah menurutmu email terakhir penyebabnya?” aku tak tau Dan. Mungkin karna itu tapi mungkin juga karna chatku akhir-akhir ini lebih dari sekedar rutin.”
“ternyata kau menyadarinya.”
“sebenarnya aku tak ingin seperti ini Dan. Ketika dia menceritakan bahwa dia menginginkan seorang kakak laki-laki aku hanya berusaha menjadi kakak yang baik baginya. Tapi ternyata aku terlalu lemah. Sekarang aku sadar Dan. Semua yang kulakukan ini terlalu berbahaya untukku, mungkin juga untuknya.
“sekarang apa yang akan kau lakukan?”
Fariz menggeleng. “aku tak tau.”
Riz klo boleh tau, sebenarnya apasih tujuanmu chat di  internet?
‘pada awalnya aku ingin berda’wah.”
“Terus…..”
“ya…ternyata aku terseret arus yang melenakan.”
“sekarang kau sudah sadar. Apa kau ingin berubah?”
“kau mengolok-olok ku,Dan. Siapa sih yang tidak ingin berubah?”
“klo kau memang ingin berubah, kau sudah tau donk dengan konsekwensinya?”
Fariz terdiam, dia mengangguk pelan
“tapi aku juga ingin menyadarkan dia kejalan yang lurus.”
“dia siapa? Adik TK mu?”
Fariz mengangguk.
Fariz…fariz… klo kau memang ingin menyadarkan dia kejalan yang lurus, kau harus berubah dulu. Percuma kau berkoar-koar dengan dalil-dalilmu dan menyuruh dia begini begitu. Sedangkan virus-virus mematikan itu masih bercokol dihatimu. Allah maha melihat riz. Dia tahu segala tingkah lakumu. Bagaimana kau akan mengajak seseorang kejalan yang lurus jika kamu tetap dijalan bercabang?”
“sekarang…menurutmu apa yang harus kulakukan?”
“aku tersenyum melihat Fariz. Dia keliatan seperti anak kecil yang kehilangan balonnya,pasrah. “kurangi komunikasimu dengannya. Carilah kesibukan lain. Bukan kau aktif di internet sejak gak ikut kajian lagi? Bagaimana klo ikut balik kajian lagi? Aku yakin itu akan jadi stabilisatormu.”
“tapi Dan, aku malu.”
“mengapa harus malu? Kya’ mau di nikahkan aja. Klo kamu mau biar aku yang nganter, bagaimana?”
“tapi Dan,…’
“Riz,hidayah yang kau dapatkan sekarang belum tentu akan datang lagi besok. Klo gak sekarang…kapan lagi?”
* * *
Langit cerah. Sinar mentari pagi menghangatkan tubuh kami yang basah oleh keringat. Lari pagi ke hadiqoh Dauliyah terasa menyegarkan. Kendaraan belum ramai. Suara burung-burung pipit menghiasi suasana pagi di el-Thairan St. salah satu jalan utama di Nasr city. Sudut kota kairo yang masih cukup ramai ditempati mahasiswa Malysia dan Indonesia.
Riz, bener kamu mau traktir aku makan kibdah?”
Memangnya aku punya tampang boong ya Dan?”
“bukan gitu, harganya sekarang udah 2 kali lipat disbanding kita datang dulu.”
“ah…sesekali makan enak kan gak ada salahnya.”
Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah yang berkuasa membolak-balikan hati manusia. Sekarang fariz telah bisa mulai melupakan masalahnya dengan adik TK nya. Kini dia telah aktif kembali di kajian rutin.
Kami berjalan menuju rumah membawa 4 sandwich kibdah. Setelah sampai di rumah. Fariz menghampiri komputernya sedangkan aku duduk dikursi sambil menikmati kibdah.
“astaghfirullah! Tiba-tiba fariz beristighfar.
Aku meloncat dari kursiku dan berlari menghampirinya yangberdiri terpatung didepan computer.
Ini Dan baca!”
Aku menatap monitor tak berkedip.
“Aku mencintaimu!”
Suatu hari adik mengatakan itu pada seseorang. Tapi apa jawabannya? Sungguh di luar dugaan. Dia tersenyum dan mengatakan “baiklah…kita pacaran.”
 Orang dewasa itu memang macam-macam fikirannya. Jika ada yang mengatakan “aku mencintaimu” fikiran mereka telah merumuskan sendiri tentang makna kata-kata itu. Yang hasilnya sungguh mengerikan. Adik sungguh tak habis mengerti. Karna dalam kehidupan adik , kehidupan anak TK, tak ada fikiran-fikiran seperti itu. Kami mengatakan apa adanya dan menerima apa adanya juga. Jika kami mengatakan putih, maka itupun benar-benar putih adanya. Jika kami mengatakan merah, kuning, hijau, biru atau hitam, itu benar-benar adanya. Begitu pula jika kami mengatakan ”Aku mencintaimu” maka itupun benar-benar adanya. Tak ada fikiran aneh-aneh didalamnya,
tak ada…
Orang dewasa itu memang berbeda. Jika mereka diberi warna hitam, mereka terdiam lama sekali sehingga bosan. Baru kemudian mereka menjawab, “itu warna merah keunguan.” Kami anak kecil hanya melongo saja. Kami tak habis fikir mengapa mereka mengatakan seperti itu padahal jelas-jelas itu warna hitam.
Sekarang, ketika adik ingin sekali mengatakan “aku mencintaimu” pada seseorang, adik harus berfikir 100.000 kali. Jika tidak mungkin kata-kata adik akan disalah artikan dan adik akan sedih sekali bila itu terjadi.
Ingin rasanya menyebar dan membagi cinta ini untuk semua orang. Tapi fikiran manusia telah tercemar oleh virus-viru ganas yang mematikan. Kapan mereka akan sembuh? Dan di saat itulah aku mengatakan kepada semua orang bahwa “aku mencintaimu” dan merekapun akan tersenyum penuh kebahagiaan.
NB : jawaban kakak tentang cinta yang adik tanyakan,sebenarnya sudah lumayan. Tapi kakak harus lebih menjaga hati. Adik juga sama-sama deh, maaf jika ada kata-kata adik yang menyinggung perasaan kakak. Semoga kakak mengerti apa yang adik maksudkan.
Aku memandang Fariz. Farizpun memandangku.
Kami berpandangan cukup lama..
Kemudian…
Hahaha…tawa kamipun lepas begitu saja.

                                                                                                                                                Created : Azh-zhyvana

Minggu, 22 Januari 2012

Cinta Dalam Diam


Jika Belum Siap,Cintai Ia Dalam "DIAM"

Bila belum siap melangkah lebih jauh dengan seseorang, cukup cintai ia dalam diam ...
karena diammu adalah salah satu bukti cintamu padanya ...
kau ingin memuliakan dia, dengan tidak mengajaknya menjalin hubungan yang terlarang, kau tak mau merusak kesucian dan penjagaan hatinya..

karena diammu memuliakan kesucian diri dan hatimu.. menghindarkan dirimu dari hal-hal yang akan merusak izzah dan iffahmu ..

karena diammu bukti kesetiaanmu padanya ..
karena mungkin saja orang yang kau cinta adalah juga orang yang telah ALLAH swt. pilihkan untukmu ...

ingatkah kalian tentang kisah Fatimah dan ALi ?????
yang keduanya saling memendam apa yang mereka rasakan ...
tapi pada akhirnya mereka dipertemukan dalam ikatan suci nan indah ....
.............

karena dalam diammu tersimpan kekuatan ... kekuatan harapan ...
hingga mungkin saja Allah akan membuat harapan itu menjadi nyata hingga cintamu yang diam itu dapat berbicara dalam kehidupan nyata ...
bukankah Allah tak akan pernah memutuskan harapan hamba yang berharap padanya ?????

dan jika memang 'cinta dalam diammu' itu tak memiliki kesempatan untuk berbicara di dunia nyata,
biarkan ia tetap diam ...

jika dia memang bukan milikmu, toh Allah, melalui waktu akan menghapus 'cinta dalam diammu' itu dengan memberi rasa yang lebih indah dan orang yang tepat ...

biarkan 'cinta dalam diammu' itu menjadi memori tersendiri dan sudut hatimu menjadi rahasia antara kau dengan Sang Pemilik hatimu ...

Simpanlah dalam hati(SIMPATI) saja semua rasa yang ada..
Jika memang Ia menjadi Milikmu.. itu adalah hadiah kecil yang diberikan ALLAH atas setiap doa Tulus yang engkau panjatkan kepadaNya..
Tapi jika dia menjadi milik Orang lain.. bersabarlah.. karena ALLAH akan memberikan Yang terbaik untukmu..
Yakinlah bahwa engkau telah melakukan kebenaran dengan "DIAM"mu..

Minggu, 08 Januari 2012

suka duka dunia maya


Bismillah...
CINTA DI FACEBOOK
Keseharianku yang terkesan pendiam seakan luber begitu saja ketika ku mengenal sebuah jejaring sosial yang sudah mendunia. Trend yag menghebohkan dunia, tak ketinggalan aku pun ikut nimbrung didalamnya.
” Hari yang melelahkan ”
Ku tulis distatus Facebook ku, entah apa tujuanku menuliskannya. Yang penting aku ingin menulis itu, tak peduli orang peduli pada status ku atau tidak.
” Assalamu’alaikum ukhti ” Ting, suara chat Facebook ku berbunyi. Ku lihat pengirimnya. Aku tersenyum seketika.
” Wa’alaikumsalam akhi ” Ku beri emoticon smile untuk menyambut sapaannya.
” Apa kabar ukht ? ”
” Alhamdulillah baik, akhi gimana ? “
” Alhamdulillah juga baik. Ukhti kecapekan yaa ? ”
” Iya akhi, kebetulan lagi banyak kegiatan “
” Ukhti udah makan, jangan lupa makan yaa ? Biar dakwahnya lancar ”
” Iya akhi. Akhi juga jangan lupa yaa. Nanti sakit lho ”
Obrolan basa basi itu berlangsung cukup lama. Dialah yang selama ini memperhatikanku, entah kenapa keinginanku bermain facebook sekarang beralih. Yang tadinya ingin mendapatkan ilmu, teman dan lain-lain, sekarang aku terbatas ingin menemuinya. Hanya dia yang aku tunggu. Entahlah, apakah ini cinta ??
=====================================
Sahabat, entah sudah berapa pasang manusia yang terjebak cinta di Facebook, entah berapa pasang manusia yang patah hati, dan entah berapa pasang manusia yang menikah bertemu di dunia maya. Ini lah dunia maya, apapun bisa terjadi disini. Bagaimana dengaNmu ??
Chat facebook adalah sarana ter’aman’ tanpa siapa pun tahu apa yang sedang kamu lakukan dan dengan siapa kamu berchating ria. Bukan kah begitu ??
Sapaan dari lawan jenis sungguh menggoda apalagi kalo dari gebetan, sungguh tak ada duanya. Kata-kata berbau islami pun terus digencarkan meskipun cuma tahu kata ” AkhY ” dan ” UkhtY “, tak masalah yang penting kan keren, membuat siapapun terpesona. Siapa tahu nanti si dia mau diajak ta’aruf.
Kalau sudah ta’arufan semua pun akan menjadi halal. Perhatian yang lebay,manja-manjaan, cemburu-cemburuan pokoknya gak ada yang boleh chating sama si dia atau malah pasword facebook pun diminta.hehehe...pengekangan pun dimulai. Kok gini ya, padahal bukan suami istri.
Aduh akhy..aduh ukhty..
Sungguh terrrrrrrlalu…cinta itu gak salah, yang salah itu yang sok perhatian atas nama cinta. Apalagi mengatas namakan ta’aruf agar serasa semuanya jadi halal.
Ta’aruf model gini hanya merubah nama pacaran saja ke gaya islami. Biar kelihatanya tetap dalam koridor islam, padahal isinya sama saja. Dengan gaya-gaya islami semua ditutupi. Tetep aja yang namanya pacaran mau diganti gaya apapun tetap akan kelihatan.
Jangan terkecoh dengan namanya ta’aruf lantas semua jadi serba dibolehkan, apalagi yang merasa ta’aruf di dunia maya. Karna merasa gak pernah ketemuan atau gak pernah khalwat karna berhijabkan dunia maya.
” Ukhty, saya kagum denganmu karna status-status ukhty selalu membuat saya terpesona. Maukah anti ta’aruf dengan saya ? bila cocok, insyaAllah saya akan melamar anti “
Kata-kata itu pernah dikeluhkan seorang wanita kepada saya. ” Bila cocok “ kata ini kok begitu rancu yaa. Artinya ta’aruf di facebook ini seperti gak ada gunanya. Emang gak ada gunanya ta’aruf model gini di facebook. Kalo ternyata dalam perjalanan perFacebookan, dia gak cocok dengan kamu. Dia akan meninggalkanmu. Udah buang waktu, buang pulsa pula buat hal yang gak pasti. Ehh..tapi gak tahu juga kalau ternyata kamu menikmati kesenangan yang gak pasti itu juga.
Memang fitrahnya wanita lemah sekali dengan rayuan, apalagi kalo ada embel-embel ta’aruf dan khitbah. Langsung kena tembak. Jadi sepertinya kata-kata ” Yuk Ta’aruf ” bisa disandingkan dengan ” Yuk Pacaran”. Iya apa iya ??
Ingatlah sahabat, ta’aruf lah secara syar’i. Jangan lah kata-kata islami dijadikan peng ‘halal’ an pacaran. Gak ada di ta’aruf atau yang udah dilamar pakai acara manja-manjaan atau cinta-cintaan sebelum menikah. Yang kayak gini hanyalah penimbul fitnah dan tetep tergolong dengan makna pacaran.
Sudah hampir satu bulan aku ta’aruf denganya, bahkan kata-kata mesra pun sering kali tersisipi dalam chating kami atau ketika dia menelponku. Baru dua kali dia menelponku, namun hati ini sangat ingin untuk terus menelponnya. Maka SMS adalah pilihan terakhirku bila dia gak terlihat di Facebook. Belum lagi kalau dia sudah memberikan kata-kata cinta yang terbentuk dalam sebuah syair untukku, serasa dunia ini hanyalah untukku dan dirinya.
“ Akhy, kapan kamu mau datang kerumah ? “
“ Insyaallah ukhti secepatnya. Kalo pun aku ke rumah, aku belum bisa melamarmu “
“ Kenapa akhy? “ Mataku terbelalak melihat ketikannya yang menusuk hatiku.
“ Aku masih belum kerja mapan, keadaanku masih seperti yang ukhty tau “
“ Aku bisa terima keadaanmu akhy “
“ Afwan ukhty, mengertilah “
“ Aku gak menuntut akhy untuk segera menikahiku. Aku hanya ingin akhy membuktikan keseriusan. Itu saja “
“ Ukhty gak percaya denganku ?
Percakapan ini selalu berakhir dengan pertengkaran. Tak ada kejelasan hubungan ini mau diarahkan kemana. Tapi aku pun tak mampu untuk kehilangannya. Aku masih berharap banyak padanya.
======================================
Ada yang pernah ngalamin ?? Hubungan yang seakan tak ada arah tujuan. Ta’aruf yang hanya sebatas nama, namun didalamnya terdapat hubungan yang tak jauh beda dengan pacaran. Pacaran berselimut ta’aruf. Makanya banyak yang akhirnya menyalahartikan ta’aruf sama dengan pacaran.
Terus bagaimana bisa mengenalnya ??
Sekali lagi, ta’aruf beda dengan pacaran. Ta’aruf bukan pacaran. Jadi ta’aruf gak perlu tuh dengan SMS cinta, Chatingan atau status mesra-mesraan. Gak banget deh.
Toh berkenalan juga gak harus dengan pacaran kan ?? terus ngapain pacaran, rugi materi, rugi waktu juga rugi hati. Bayangin aja, belum jadi suami istri udah cemburu-cemburuan, udah saling tuduh, lalu patah hati, jadi capek hati dan rugi juga pacaran Cuma buat sakit-sakitan.
Ta’aruf gak gitu!!!
Ta’aruf di facebook yang merasa semua sudah serba halal tentu berbeda dengan ta’aruf syari yang seharusnya. Kalo Cuma di facebook doank, mana tahu kalo si dia serius. Emang yakin kalo si dia gak ta’arufan sama yang lain juga ??
Atau kamu punya solusi sendiri dengan mencantumkan identitas pasanganmu sebagai ‘tunangan’ di facebookmu. Jadi seolah-olah kalo sudah tunangan menjadi hal biasa untuk mesra-mesraan. Memang kalo udah tunangan boleh gitu mesra-mesraan, tunangan itu bukan akad lho, bukan terpatri disebuah pernikahan. Masih belum halal juga kan ?? Kenapa jadi ngerasa kalo udah ta’aruf atau ‘tunangan’ jadi bisa serba halal ??
Sebuah ta’aruf syari, tak akan ada kata cinta sebelum pernikahan. Ta’aruf tentunya gak bisa dilakukan di facebook, karna ta’aruf butuh pihak ketiga yakni wali atau mahrom dari masing-masing pihak. Ta’aruf ini pun gak serta merta semua jadi halal, gak ada sms cinta atau chatingan mesra. Gak ada komunikasi yang berlebihan, hanya menghubungi jika benar-benar penting saja. Mentang-mentang lagi masa ta’aruf , jadi sering SMS an atau telponan nanyain hal yang gak penting. Gak ada yang seperti ini.
Kalau mau tahu calon tanpa berhubungan dengannya gimana donk ??
Kamu dan dia kan punya kerabat dan sahabat kan ??
Kamu bisa tanya kepada mereka, atau kalo perlu langsung tanya pada walinya. Kamu bisa tanya tentang kehidupannya, karakternya, bagaimana dia terhadap lingkungan atau hal lain yang kamu butuhkan untuk kemaslahatan pernikahanmu nanti. Dan tentunya mereka yang kamu tanya harus memberikan informasi yang kamu butuhkan.
Tentu hal ini akan menjaga hatimu dan hatinya, izzahmu dan izzahnya, iffahmu dan iffahnya. Tak perlu pacaran berselimut ta’aruf kan untuk mengenalnya. Masih ada ta’aruf yang benar-benar ta’aruf.
Udah deh, jangan takut kehilangan si dia. Kalo kamu yakin meninggalkan perkara bathil untuk melangkah pada kebenaran, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menggantikannya dengan yang lebih baik. Yakinilah itu.
Beranjak ku pada cinta yang suci, enggan ku berdiri pada hitamnya hati..
Jawaban kehidupan memberiku makna, bahwa cinta tak hanya diucapkan..
Dia dibuktikan dengan izzah dan iffah yang putih..
Dia dibuktikan dengan keindahan dari cintaNya dan untukNya..
jika qt mencintai ALLAH,maka qt akan memiliki segala na
~Salam Ukhuwah mahabbah Fillaah

Senin, 02 Januari 2012

maafkan aku yang tak pernah bisa

 Maafkan aku yang tak pernah bisa…
Aku mengenal sosoknya sewaktu duduk di bangku kuliah. Kepribadiannya yang begitu sederhana cukup menarik perhatianku. Dia seorang yang ramah dan menyenangkan. Waktu itu tak pernah terbayangkan olehku suatu saat aku akan menyukainya. Menyukainya lebih dari sekedar teman dekat seperti saat ini.
“ Rina!” seru lantang dari kejauhan.
Aku hanya tersenyum tanpa menolehkan wajah untuk mencari si pemilik suara.
“Hey Rin! Tunggu aku……
Kali ini terpaksa ku hentikan langkahku. Cengkraman erat terasa di bahu membalikkan seluruh tubuhku.
“Ya Rey” jawabku malas.
Sebuah wajah dengan mata beRing kekanak-kanakkan memandangiku dengan tersenyum.
“Semalam aku menelpon kerumah Rin, tapi kau tidak ada. Handphone mu juga tidak aktif. Kemana saja kau semalam” sungutnya.
“Tidur. Aku malas terima telpon mu” jawabku santai.
“Ehm, jujur tapi menyakitkan. Ok, sudah termaafkan! Kita ketemu lagi nanti.
Ada yang ingin aku bicarakan ”
“Entahlah Rey, rasanya aku harus ke supermarket ada beberapa titipan mama yang harus ku …
“Bisa diatur! Nanti ku antar” potongnya cepat
“Tapi …
“Jam 5 di tempat biasa. Aktifkan handphone mu ya!” serunya sambil berlari menuruni tangga tanpa memberiku kesempatan untuk mengelak.
Benar-benar egois, aku kan bukan psikiater pribadinya yang harus ada setiap saat untuk mendengarkan masalah-masalahnya. Masih jelas terekam dalam ingatanku semua perkataannya…
“Rin, nilai ujian semesterku buruk sekali” atau “Bantu aku mengahafal ya, nanti malam ku telpon”! dan tak jarang ia akan berkata seperti ini, “Pinjam catatanmu dong Rin, kalau kamu ada waktu sekalian copy untukku ya, nanti ku traktir deh” terlebih lagi puncak kekesalanku terjadi pada saat ia meminta waktu tidurku juga untuknya, ”Please Rin aktifkan handphone mu, terkadang aku tak bisa tidur, aku kan butuh seseorang untuk temaniku bicara”. Sungguh keterlaluan sekali, sederet seruan dan gangguan yang ia timbulkan padaku, terkadang membuatku kesal padanya.
Namun seiring waktu, kebersamaan itu membuat diriku merasakan “sesuatu” yang aneh yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Meski dia sangat mengganggu tak dapat kupungkiri aku pun tak ingin jauh darinya.
***
Gerimis hujan yang tiba-tiba membasahi sore itu membuat kami tertahan di sebuah kedai kopi didalam pusat perbelanjaan. Aku dan Rey duduk di pojok ruangan dekat jendela. Sekilas kulihat air mukanya yang nampak cerah kini berubah getir.
“Dia kembali Rin” katanya pelan.
Aku hanya terdiam mendengar ucapannya.
“Kami bertemu semalam, dia cantik sekali” kali ini nada suaranya sedikit meRinggi menahan emosi. Entah kenapa ada sedikit rasa marah menjalariku.
“Pantas kau menelponku semalam” jawabku ketus.
Tiba-tiba dia tertawa keras seakan ingin melepaskan seluruh emosinya.
“Maaf ya, aku sedang bingung sekali” katanya pelan.
Ku pandangi wajahnya. Sorot matanya yang ramah nampak hangat menatapku. Dengan gugup kualihkan pandanganku ke jendela.
“Hingga detik ini, aku selalu berpikir kalau ia masih milikku. Benar-benar bodoh!” serunya kesal pada diri sendiri.
Ada sedikit rasa sedih menyelimuti hatiku ketika mendengar ucapannya.
“Sejak pertengkaran itu, Aku dan Jen seperti kehilangan kontak. Aku tak pernah bisa melupakan dirinya hingga saat ini…
Kuarahkan pandanganku kembali ke jendela kedai. Dengan suara tertahan kupaksakan diri untuk bertanya padanya.
“Lalu apa yang akan kau lakukan” tanyaku pelan.
Untuk beberapa saat ia membisu. Kemudian memandangi wajahku dengan nanar.
“Dia menginginkan ku, Rin” jawabnya dengan nada bimbang.
Dadaku tergetar begitu mendengar penuturannya. Kuarahkan pandangan ke pintu masuk kedai dan mencoba untuk mengacuhkan kata-katanya.
“Kau ingin kembali padanya?” kataku dengan sedikit menahan emosi.
“Entahlah” jawabnya ragu.
Seketika itupun perasaan lega mengelilingiku.
Malam itu aku menolak tawarannya untuk mengantarku pulang. Taksi yang membawaku menuju perjalanan ke rumah seakan terasa lama dan membosankan. Entah mengapa, aku menyesal menolak tawarannya. Saat itu aku ingin sekali dia berada disampingku tuk temaniku pulang.
***
Sinar mentari pagi dari jendela kamar menyapu separuh wajahku. Kupaksakan diri untuk bangun dari tempat tidur. Rasa malas masih menghinggapiku. Aku tidak begitu suka bangun pagi. Bahkan orang rumah pun tahu itu. Tanpa sadar aku tersenyum sendiri teringat akan ucapan Rey….
“Bangun Rina, udara pagi sangat baik untukmu, seorang gadis tidak baik jika bangun terlalu siang” katanya suatu ketika.
Dan tak jarang dering telpon darinya membangunkanku hampir tiap pagi.
“Aku tak akan berhenti menelponmu hingga kau bisa bangun pagi” ucapnya sambil tertawa.
Kini makin kusadari betapa aku merindukannya.
Kulangkahkan kaki dengan lunglai. Hari ini segan rasanya untuk memulai aktifitas. Kupandangi handphone sesaat. No message. Rasanya sudah lama sekali, sejak pertemuan sore itu di kedai kopi bersamanya.
Everything’s allright???
Pesan ringan yang kukirimkan padanya sejak hari itu tak pernah ada jawaban. Meski berat tapi kucoba untuk tidak menghubunginya. Aku tak ingin menggangu. Walaupun aku rindu setengah mati ingin melihat sosoknya disampingku dan mendengar suara tawanya yang selalu menggodaku. Perasaanku benar-benar galau, tiba-tiba aku merasa takut sekali kehilangan dirinya.
“Please telpon aku Rey, besok kan ujian kamu butuh aku untuk menghafal” gumamku pelan pada diri sendiri.
Keresahan di hati kini makin menjadi. Aku tak melihatnya disekitar kampus. Dengan segenap kekuatan aku beranikan diri untuk menghubungi telpon selularnya. Tidak aktif. Kutekan kembali nomor handphone-nya untuk kedua kali. Masih sama. Perasaan khawatir dan bingung menderaku, dengan kesal aku mencoba menghubunginya lagi, kali ini nomor telpon rumahnya. Tak ada yang angkat. Tuhan dimanakah dia. Dimanakah Rey ku……
***
Aku terbangun oleh suara getar handphone disisiku malam itu. Sejak Rey menghilang aku selalu memegang benda tsb disamping tempat tidur untuk berjaga jaga. Nomor yang tidak kukenal. Dengan penasaran kubuka pesan masuk tadi….
Hatiku sakit sekali Rin…
Terima kasih Tuhan ucapku berkali-kali. Itu pasti pesan darinya….
Dengan cepat kuhubungi nomor tsb. Dering pertama, dadaku berdegup kencang. Dering kedua, telapak tanganku jadi sedikit basah. Dan pada hitungan dering yang ketiga kudengar suara itu. Suara yang selalu kutunggu. Suara yang kurindukan selama ini. Setengah tak percaya kusapa lembut suara itu dan tanpa sadar airmataku pun menetes…..
“Rey“ sapaku parau.
“Rin……
“Bagaimana kabarmu” tanyaku lembut.
Dia hanya tertawa menanggapiku. Sambil menghela nafas perlahan, lalu ia meneruskan ucapannya.
“Sejak Jen kembali ke Jakarta, aku bahagia sekali. Dia bilang kita akan selalu bersama” katanya menerawang
“Apa yang terjadi Rey” tanyaku lembut.
“Papa Jen tak pernah menyukaiku dari dulu“ ucapnya pelan.
Dadaku terasa sakit demi mendengar ucapannya.
“Semuanya tak seperti yang aku dan Jen inginkan “
“Sudahlah”
“Mereka tak pernah mengerti Rina!“ serunya tertahan.
“Rey….. ucapku pelan.
“Aku tak pernah menyuruh Jen kembali ke sisiku. Semua itu atas kemauannya sendiri. Kau tahu itu kan Rin?” ulangnya.
“Ya….
“Aku lelah sekali …”
Kini hatiku benar-benar terasa perih mendengar penuturannya.
“Maafkan aku yang selalu mengganggumu dengan masalah masalahku ya” ucapnya pelan.
“Please, don’t say that” mohonku.
Kurasakan tetes airmata jatuh di pipi.
“Jika kamu mau kita bisa bertemu dan bicarakan ini” harapku sambil menahan isak.
Rey hanya tertawa pelan mendengar perkataanku.
“Terimakasih atas kebaikanmu padaku selama ini Rin, aku tak kan pernah melupakannya”
“Rey… ucapku tergetar.
Tiba-tiba perasaan ketakutan menderaku. Tubuhku terasa lemas. Aku harus mengatakannya, atau aku akan kehilangan dia. Kucoba untuk mengumpulkan seluruh keberanianku. Akan tetapi……
“Selamat malam Rina” ucapnya lembut mengakhiri pembicaraan.
“Rey aku………
Bip!!
Terlambat. Sambungan telpon sudah terputus.
“Aku sayang kamu…… bisikku lirih menahan tangis.
Hatiku terasa hancur dan kini kurasakan hangat airmata membasahi wajah. Malam itu, dalam diam aku menangis.
***
Tiga tahun sudah berlalu, sejak kutinggalkan kota ini tak begitu banyak yang berubah. Kesibukan orang-orang yang lalu lalang dan keramaiannya pun masih tetap sama. Gedung-gedungnya masih seperti dulu. Dering telpon di saku menyadarkan lamunanku.
“Ya ma, sebentar lagi” jawabku singkat. Kemudian kututup pembicaraan.
Segera kupercepat langkah menuju pintu keluar pusat perbelanjaan. Namun kuurungkan niatku seketika, kini kedua mataku tertuju pada suatu tempat. Sebuah tempat yang cukup memberiku sedikit kenangan. Kulangkahkan kaki perlahan menuju tempat itu. Sebuah kedai kopi kecil didalam pusat perbelanjaan. Seperti ada suatu energi yang menarikku, kuarahkan pandangan ke dalam kedai dari jendela luar. Masih seperti dulu. Tak berubah sedikit pun. Tiba-tiba aku terhenyak Sebuah sosok yang kukenal duduk dipojok ruangan tak jauh dari jendela tempatku berdiri. Untuk beberapa saat aku terpaku.
“Ya Tuhan, benarkah” batinku.
Seakan tak percaya kupertegas kembali pandanganku kearah jendela kedai.
“Rey… gumamku pelan seakan tak percaya.
Senyum tipis menghiasi wajahku. Keinginan kuat pun menyelimutiku untuk menghampirinya. Sudah lama sekali sejak pembicaraan terakhir malam itu. Masih ingatkah dia padaku. Ingin sekali rasanya memandangi wajah itu kembali. Menatap sorot matanya yang ramah dan mendengar suara tawanya yang selalu kurindukan setiap malam.
Dengan mantap kulangkahkan kaki penuh harap menuju kearahnya. Saat ini ingin rasanya kuberlari dan memeluknya erat. Kali ini tak akan kulepaskan lagi. Kudorong pintu kedai dengan sedikit tergesa. Tiba-tiba kulihat sebuah sosok lain bergerak kearahnya. Seorang gadis berjalan menuju kearahnya dan duduk dihadapannya.
Rey nampak tersenyum kearah gadis tsb. Segera kuurungkan niat memasuki pintu kedai, dengan cepat kusandarkan tubuhku dibalik sebuah tiang penyangga. Nafasku memburu. Tubuhku terasa lemas. Seakan tak percaya kuarahkan pandanganku lagi ke dalam kedai lewat tiang yang menutupi tubuhku. Dia bukan Jen. Tapi mereka begitu mesra. Hati ini kembali terasa pilu demi melihatnya. Rey nampak jauh lebih dewasa sekarang dan dia terlihat begitu bahagia. Kupandangi ia untuk yang terakhir kali. Dengan sedikit gemetar kupaksakan diri membalikkan tubuh ini dan melangkah pasti keluar pintu masuk kedai, perlahan kususuri etalase toko diluar pusat perbelanjaan. Rasa haru, sedih dan bahagia jadi satu menyelubungi perasaanku.
“Terimakasih Tuhan, akhirnya dia menemukan kebahagiaan” bisikku pelan.
Tiba-tiba semuanya terasa hampa. Tanpa kusadari titik airmata pun telah jatuh membasahi kedua belah pipiku. Meski telah berjanji pada diri sendiri untuk tidak menangis lagi, namun aku tak kuasa menahan perasaan ini. Perasaan yang telah sekian lama tak pernah mau beranjak dari hatiku. Dan kini terasa perih menoreh kembali.
“Maafkan aku Rey” isakku pelan.
“Maafkan aku yang tak pernah bisa melupakanmu……

Template by:

Free Blog Templates