Sabtu, 28 Januari 2012

luv in Maya


Love in Maya
Hei,Riz ko’ senyum-senyum sendiri sih. Jangan-jangan kamu sudah kena penyakit gila?” godaku pada Faris , teman se-kost yang sedang tersenyum-senyum simpul sambil memandangi layar monitornya. “sembarangan aja kamu, ini loch aku dapet  temen chat yang menggelikan.” Aku bangkit dari kursi. Penasaran. “siapa sih?” tanyaku pada Faris sambil kulongokan kepalaku memandang layar monitor.
(fariz) assalamu’alaikum
(Starla_zhyvana) wa’alaikumussalam, apa kabar?
(fariz)Alhamdulillah baik. Asl, pls ukhti?
(Starla_zhyvana) apakah perlu?kita kan bisa komunikasi tanpa harus berkenalan kan akhi?
(fariz) ana rasa itu kurang bagus
(Starla_zhyvana )kenapa?
(fariz) umur menurut ana sangat penting. Berbicara dengan mahasiswa tentu tidak sama dengan anak TK. Kan tidak mungkin ana berdiskusi dengan anakTK.
(Starla_zhyvana) mungkin saja. Mendingan diskusi sama anak TK tapi nyambung daripada diskusi sama mahasiswa tapi gak nyambung.
(fariz) ok dech klo begitu. Anti bener-bener masih TK ya?
(Starla_zhyvana)anak Tk? Boleh juga
(fariz) dipanggil adek TK aja klo begitu ya…
 (Starla_zhyvana) boleh, kesannya malah ana masih imut…
“riz, siapa dia?”
“aku juga gak tau.”
“ngomongnya ko’ dah pake’ Ana-akhi. Jangan-jangan dia udah akhwat.”
Ya…emang dia akhwat.masa’ ikhwan sih?!”
Aku serius Riz.”
Fariz hanya tersenyum.
“Ati-ati Riz.Godaan syetan bertebaran dimana-mana lho. Apalagi klo Adam sudah berhadapan dengan Hawa.” Kutepuk pundak Fariz yang masih menekan-nekan keyboardnya.
* * *
Dan,Zidan…bangun donk. Ada hal penting nih.” Kurasakan tubuhku di guncang-guncang. Aku membuka mata yang baru tertutup beberapa menit yang lalu.
“ada apa,Riz dah waktunya shalat malem ya?”
“bukan.pokoknya gawat dech. Bangun donk.”
“kamu ini, klo bangunin orang pake’ sopan santun sedikit kenapa sih…”
dengan rasa kantuk yang masih menggelayuti mata, aku bangkit dari tempat tidur. ”ada apa?”
“sini…” fariz berjalan kea rah komputernya. Mau tak mau, akupun mengikuti langkahnya.
Ketika tiba didepan computer, Aku menajamkan pandanganku.
“Aku mencintaimu!” “apa jawaban kakak?”
Lama aku menatap tulisan berwarna purple di monitor. Kukucek-kucek mata dengan kedua tangan karna tak yakin dengan apa yang kulihat. Aku menoleh kea rah fariz yang ada disampingku.
“dari siapa Riz, adik TK mu ya?”
Fariz hanya mengangguk.
Adik Tk nya fariz adalah seorang muslimah asal solo yang kuliah di salah satu perguruan tinggi negri disana. Mengambil jurusan psikologi yang baru menempuh semesrter 3.
Pada awalnya Fariz berkenalan dengannya lewat chating beberapa waktu yang lalu dan terus berlanjut dengan saling berkirim email. Pada awalnya email yang dia tulis biasa-biasa aja. Menanyakan arti Mushtalahat Arab yang tak diketahuinya dan terkadang minta tausiah.
Ko’ aku tahu? ya...karna fariz mempercayaiku untuk ikut membaca email-email yang dikirimkannya. Sering juga fariz baru membalas emailnya setelah meminta saranku. Namun, akhir-akhir ini email yang dikirim adik TK nya udah agak lain, emailnya sering bertanya tentang pandangan fariz mengenai dunia muslimah. Dan puncak dari keanehan itu adalah email yang terakhir ini.
“sudah kamu balas Riz?”
Fariz menggeleng. Aku kembali melihat wajah faris yang masih terbengong-bengong.
“tenang aja Riz. Tak usah seserius itu.” Aku menepuk pundaknya, mencoba mengalirkan kekuatan kepadanya untuk tetap segar. Faris meringai.
Ya…maklum aja, Dan. Baru kali ini aku dapetyang beginian. Menurutmu bagaimana aku harus membalasnya?”
“menurutku, kamu jawab sesuai yang ada di fikiranmu. Tapi yang penting tidak menyimpang dari ajaran-ajaran islam.”
Fariz menganggukan kepala.
 Assalamu’alaikum,adik Tk…
Terus terang ada surprise tersendiri membaca email adik yang singkat tapi penuh makna. Sulit untuk kakak memahami jawaban seperti apa yang adik maksudkan. Tapi akan kakak coba.
Adik mencintai kakak ya? Menurut kakak itu wajar. Dan wajar pula jika seorang kakak juga mencintai adiknya. Kakak rasa, tidak ada yang luar biasa. Namun tetap saja kakak masih bingung. Mengapa adik harus mengungkapkannya pada kakak? Apakah semua itu harus diungkapkan?
Adik TK,cinta pertama yang harus kita patri dalam sanubari adalah ci nta kepada Allah dan Rasulnya. Adik tentu pernah membaca tentang kisah para sahabat tentang perang uhud?mereka menjadikan tubuh mereka tameng untuk menghalangi senjata-senjata kaum musyrikin yang akan mengenai tubuh Rasulullah. Ada juga shahabiyah yang suami,anak,dan saudaranya syahid bersamaan dalam satu peperangan. Tapi ia slalu menanyakan bagaimana keadaan Rasulullah. Ketika dia tau Rasulullah selamat, dia berkata:”seluruh musibah terasa ringan setelah melihat dirimu.”
Adik Tk, merekalah uswah kita dalam cinta. Cinta Allah danRasulNya telah memenuhi seluruh ruang dalam hati mereka walaupun mereka tetap tidak menafikan cinta kepada sesame muslim.
Aku haya menggeleg membaca kalimat demi kalimat Fariz.
 “bagaimana Dan?”
“masih rentan fitnah,apalagi kalimat terakhirnya.”
“tapi Dan aku harus menjawab emailnya. Atau aku fikir sebaiknya aku diam saja? Tapi Dan, di room dia lihat aku aktif diskusi. Kan gak sopan jika aku membiarkannya begitu saja. Aku takut dia menyangka yang nggak-nggak,” jawab fariz sedikit emosi. Aku terdiam. Mendebatnya dalam suatu hal yang dia yakini kebenarannya hanya akan menambah dia semakin mempertahankan diri.
* * *
Semenjak email terakhir itu terkirim, wajah Fariz mulai menampakkan wajah yang lain. Ya,walaupun ia masih rutin ke masjid 5 waktu, tilawah 1 juz perhari serta baca al-ma’tsurat pagi sore, namun jadwal online nya jadi bertambah.
“Dan, shalatku rasanya gak bisa khusyu’. Aku selalu teringan dengan dia. Walaupun aku tak pernah melihat wajahnya,tapi dari kata-katanya,tutur bahasanya, dan nasihat-nasihatnya seakan aku bisa merasakan bahwa sebenarnya dia ada di depanku. Aku bisa melihat keceriaan diwajahnya, binar matanya, dan…ah…” ujar Fariz kepadaku suatu saat.
Astaghfirullah! Istighfar Riz…
Sampe’ separah itu kah? Tanyaku.
Fariz mengangguk,
Aku sadar, sejak awal aku sudah khawatir komunikasi mereka akan mendekati ambang-ambang batas yang membahayakan. Apalagi dengan kondisi Fariz yang sekarang. Hampir sebulan ini tak lagi ikut kajian rutin. Padahal itu adalah sarana efektif untuk stabilitas keimanan. Walau rutinitas amal hariannya ku akui masih berjalan normal, tapi ada sisi-sisi penting dari diri Fariz yang hilag. Dan aku sebagai teman hanya bisa mendo’akan dan menasihatinya. Dengan kondisinya sekarang, nasihat-nasihat pun hanya seperti angin berlalu. Hanya saja kadang-kadang dia ingin didengarkan dan diberi semangat.
“apakah menurutmu email terakhir penyebabnya?” aku tak tau Dan. Mungkin karna itu tapi mungkin juga karna chatku akhir-akhir ini lebih dari sekedar rutin.”
“ternyata kau menyadarinya.”
“sebenarnya aku tak ingin seperti ini Dan. Ketika dia menceritakan bahwa dia menginginkan seorang kakak laki-laki aku hanya berusaha menjadi kakak yang baik baginya. Tapi ternyata aku terlalu lemah. Sekarang aku sadar Dan. Semua yang kulakukan ini terlalu berbahaya untukku, mungkin juga untuknya.
“sekarang apa yang akan kau lakukan?”
Fariz menggeleng. “aku tak tau.”
Riz klo boleh tau, sebenarnya apasih tujuanmu chat di  internet?
‘pada awalnya aku ingin berda’wah.”
“Terus…..”
“ya…ternyata aku terseret arus yang melenakan.”
“sekarang kau sudah sadar. Apa kau ingin berubah?”
“kau mengolok-olok ku,Dan. Siapa sih yang tidak ingin berubah?”
“klo kau memang ingin berubah, kau sudah tau donk dengan konsekwensinya?”
Fariz terdiam, dia mengangguk pelan
“tapi aku juga ingin menyadarkan dia kejalan yang lurus.”
“dia siapa? Adik TK mu?”
Fariz mengangguk.
Fariz…fariz… klo kau memang ingin menyadarkan dia kejalan yang lurus, kau harus berubah dulu. Percuma kau berkoar-koar dengan dalil-dalilmu dan menyuruh dia begini begitu. Sedangkan virus-virus mematikan itu masih bercokol dihatimu. Allah maha melihat riz. Dia tahu segala tingkah lakumu. Bagaimana kau akan mengajak seseorang kejalan yang lurus jika kamu tetap dijalan bercabang?”
“sekarang…menurutmu apa yang harus kulakukan?”
“aku tersenyum melihat Fariz. Dia keliatan seperti anak kecil yang kehilangan balonnya,pasrah. “kurangi komunikasimu dengannya. Carilah kesibukan lain. Bukan kau aktif di internet sejak gak ikut kajian lagi? Bagaimana klo ikut balik kajian lagi? Aku yakin itu akan jadi stabilisatormu.”
“tapi Dan, aku malu.”
“mengapa harus malu? Kya’ mau di nikahkan aja. Klo kamu mau biar aku yang nganter, bagaimana?”
“tapi Dan,…’
“Riz,hidayah yang kau dapatkan sekarang belum tentu akan datang lagi besok. Klo gak sekarang…kapan lagi?”
* * *
Langit cerah. Sinar mentari pagi menghangatkan tubuh kami yang basah oleh keringat. Lari pagi ke hadiqoh Dauliyah terasa menyegarkan. Kendaraan belum ramai. Suara burung-burung pipit menghiasi suasana pagi di el-Thairan St. salah satu jalan utama di Nasr city. Sudut kota kairo yang masih cukup ramai ditempati mahasiswa Malysia dan Indonesia.
Riz, bener kamu mau traktir aku makan kibdah?”
Memangnya aku punya tampang boong ya Dan?”
“bukan gitu, harganya sekarang udah 2 kali lipat disbanding kita datang dulu.”
“ah…sesekali makan enak kan gak ada salahnya.”
Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah yang berkuasa membolak-balikan hati manusia. Sekarang fariz telah bisa mulai melupakan masalahnya dengan adik TK nya. Kini dia telah aktif kembali di kajian rutin.
Kami berjalan menuju rumah membawa 4 sandwich kibdah. Setelah sampai di rumah. Fariz menghampiri komputernya sedangkan aku duduk dikursi sambil menikmati kibdah.
“astaghfirullah! Tiba-tiba fariz beristighfar.
Aku meloncat dari kursiku dan berlari menghampirinya yangberdiri terpatung didepan computer.
Ini Dan baca!”
Aku menatap monitor tak berkedip.
“Aku mencintaimu!”
Suatu hari adik mengatakan itu pada seseorang. Tapi apa jawabannya? Sungguh di luar dugaan. Dia tersenyum dan mengatakan “baiklah…kita pacaran.”
 Orang dewasa itu memang macam-macam fikirannya. Jika ada yang mengatakan “aku mencintaimu” fikiran mereka telah merumuskan sendiri tentang makna kata-kata itu. Yang hasilnya sungguh mengerikan. Adik sungguh tak habis mengerti. Karna dalam kehidupan adik , kehidupan anak TK, tak ada fikiran-fikiran seperti itu. Kami mengatakan apa adanya dan menerima apa adanya juga. Jika kami mengatakan putih, maka itupun benar-benar putih adanya. Jika kami mengatakan merah, kuning, hijau, biru atau hitam, itu benar-benar adanya. Begitu pula jika kami mengatakan ”Aku mencintaimu” maka itupun benar-benar adanya. Tak ada fikiran aneh-aneh didalamnya,
tak ada…
Orang dewasa itu memang berbeda. Jika mereka diberi warna hitam, mereka terdiam lama sekali sehingga bosan. Baru kemudian mereka menjawab, “itu warna merah keunguan.” Kami anak kecil hanya melongo saja. Kami tak habis fikir mengapa mereka mengatakan seperti itu padahal jelas-jelas itu warna hitam.
Sekarang, ketika adik ingin sekali mengatakan “aku mencintaimu” pada seseorang, adik harus berfikir 100.000 kali. Jika tidak mungkin kata-kata adik akan disalah artikan dan adik akan sedih sekali bila itu terjadi.
Ingin rasanya menyebar dan membagi cinta ini untuk semua orang. Tapi fikiran manusia telah tercemar oleh virus-viru ganas yang mematikan. Kapan mereka akan sembuh? Dan di saat itulah aku mengatakan kepada semua orang bahwa “aku mencintaimu” dan merekapun akan tersenyum penuh kebahagiaan.
NB : jawaban kakak tentang cinta yang adik tanyakan,sebenarnya sudah lumayan. Tapi kakak harus lebih menjaga hati. Adik juga sama-sama deh, maaf jika ada kata-kata adik yang menyinggung perasaan kakak. Semoga kakak mengerti apa yang adik maksudkan.
Aku memandang Fariz. Farizpun memandangku.
Kami berpandangan cukup lama..
Kemudian…
Hahaha…tawa kamipun lepas begitu saja.

                                                                                                                                                Created : Azh-zhyvana

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates