Sabtu, 13 Juli 2013

segenggam tabah

Mencoba kembali…
Menulis sebuah skenario…
Adakah yang tersisa dari kepingan inspirasi-inspirasi terdahulu?!
Tak bosan kutelusuri kata perkata yang berjatuhan
Dalam jauhnya masalalu…
Kususun layaknya puzzle yang akan menjadi sempurna…
   ”Kamis, 03 mei 2012”
“Ka… kemarin ba’da maghrib ibu masuk rumah sakit, di ruang stroke centre lagi.”
Isi sms dari ayah yang aku terima setelah selesai shalat Dzuhur. Aku mencoba untuk tetap tenang dan berkhusnudzhon bahwa ibu akan baik-baik saja. Ba’da Dzuhur aku melanjutkan kembali kuliahku sampai jam 14.00 am. Selesai kuliah abangku menelfon, memberi tahu kabar ibu, bahwa sampai hari ini ibu masih belum sadarkan diri dan menawarkan aku untuk pulang.
Ya Rabb, berilah aku petunjuk…
Ba’da Ashar salah satu temanku memanggilku untuk menyampaikan sms dari kakak iparku.
“Aslm, af1 tolong sampaikan ke ukhti fulanah “ibunya kritis di rumah sakit”, Syukron”.
Begitu kira-kira sms yang ku dapat.
Aku jadi teringat, baru saja kemarin ibu menelfonku. Namun karena saat itu masih ada kegiatan kuliah, aku tidak bisa menerima telfon darinya. Ingin rasanya aku marah, namun aku tahu itu tak akan mengubah keadaan menjadi lebih baik.
Setelah beberapa menita aku menerima sms itu, kakak perempuanku menelfon. Katanya aku harus pulang karena saat ini sakit yang ibu derita cukup parah. Kemudian aku pun langsung meminta izin kepada murobbiku untuk pulang.
Sesampainya di Jakarta, aku istirahat sebentar. Tak kudapati Ayah di rumah. Dan itu berarti aku baru bisa menemuinya esok hari.
 HARAPAN ITU UNTUKNYA…
Sabtu itu aku pergi ke rumah sakit bersama ayahku. Karena peraturan rumah sakit yang sangat ketat aku terpaksa harus menunggu selama sepuluh menit sampai jam besuk tiba. Singkat cerita, aku dan kakakku akhirnya bisa melihat ibu. Sosoknya, yang sangat kami rindukan…
Aku, ya aku, yang hanya bisa merasakan setetes dari rasa perihnya. Setetes saja, telah membuat butiran air mataku berjatuhan. Bagaimana jika aku berada di posisinya? Ibu yang katanya akhir-akhir ini terlihat lebih sehat dari biasanya, tiba-tiba harus terbaring lemah tak berdaya berjuang melawan penyakitnya. Padahal sebelum kejadian itu ibu masih baik-baik saja. Dokter bilang, kalau ibuku mengalami pecahnya pembuluh darah pada otaknya, saat itu sudah ada 11 titik yang bocor. Harapan untuk sembuh pun hanya ada 5 s/d 7 % saja. Aku memang tidak terlalu faham akan penyakit yang ibu derita. Meski begitu, doaku untuk nya tak penah terputus, berharap Allah akan memberikan keajaiban untuk yang terbaik. Aku hanya ingin ibu bisa cepat sembuh dan bisa berkumpul ditengah-tengah kami lagi.
6 hari sudah ibu di rumah sakit, tapi ibu masih belum membuka matanya, walau hanya sebentar. Mungkin bisa dibilang kalau ibu saat ini sedang mengalami koma. Lantunan Al-Qur’an juga do’a tak pernah terhenti. Berharap akan ada keajaiban datang untuk ibu.
“Ibu kami disini … bangunlah…!”
Sampai pada sore itu, tepatnya tanggal 8 mei 2012 jam 19.45 pm. “Ny.fulanah kritis, minta do’anya aja dari keluarga” kata salah seorang perawat datang sambil memanggil ayahku. Ayah pun langsung masuk bersama kakak perempuanku ke ruang dimana ibu dirawat. Setelah lima menit, kakakku telah kembali keruang tunggu dengan butiran-butiran bening dari matanya.
Kini ibu telah tiada...
Tak tahan rasanya aku mendengar ucapan kakakku, aku memeluknya erat. Kini … tetesan air mata itu sudah berubah menjadi air hujan yang tak tertahankan lagi.
Ya Rabb… mampukah aku menghadapi semua ini?
Pikiranku kembali melintas pada dia yang kusayang. Apa yang sudah aku lakukan untuk membahagiakannya. Adakah?
Semua mimpi itu seakan telah lenyap. Aku rapuh…
Manusia memang hanya bisa berencana, Tapi Allah tetaplah sang penentu. Sebelum ibu pergi, banyak sekali mimpi-mimpi yang telah tertata rapi dalam catatan kami.
Jalan takdir memang mesti kujalani dan itu yang mengharuskanku untuk melangkah dengan kenyataan sebuah takdir. Langkah ini tak akan henti, meski terkadang aku terjatuh dan terkadang aku bangun darinya. Manusia memang tak selamanya mampu menerima takdir. Begitupun dengan diriku. Apa yang telah ditakdirkan oleh Allah, terkadang itu bukan suatu hal yang aku inginkan. Aku yakin, semua manusia pasti pernah dan akan merasakan kehilangan, begitupun aku. Merasakan kehilangan adalah mutlak.
Insya Allah, hanya takdir terindahlah yang Allah siapkan kepada hambaNya.
Belajar memahami tiap skenarioNya…
Ya Rabb…
Jagalah dia, di kala penjagaanku tak sampai padanya. Sayangi dia kala sayangku tak mampu merengkuh dalam dekapan nyata. Muliakan ia kala penghargaanku tak mampu terangkum dalam kata yang sahaja. Karena Engkau punya segala yang tak kupunya dan karena aku ingin selalu menjadi permata hatinya di dunia dan mengharap bertemu dengannya di syurga… Amin

                                                                                                                             `Ashfara -rahmania`

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates