Menulis sebuah skenario…
Adakah yang tersisa dari kepingan inspirasi-inspirasi
terdahulu?!
Tak bosan kutelusuri kata perkata
yang berjatuhan
Dalam jauhnya masalalu…
Kususun layaknya puzzle yang akan menjadi
sempurna…
”Kamis, 03 mei 2012”
“Ka… kemarin ba’da maghrib ibu masuk
rumah sakit, di ruang stroke centre lagi.”
Isi sms dari ayah yang aku terima setelah
selesai shalat Dzuhur. Aku mencoba untuk tetap tenang dan berkhusnudzhon bahwa ibu
akan baik-baik saja. Ba’da Dzuhur aku melanjutkan kembali kuliahku sampai jam
14.00 am. Selesai kuliah abangku menelfon, memberi tahu kabar ibu, bahwa sampai
hari ini ibu masih belum sadarkan diri dan menawarkan aku untuk pulang.
Ya Rabb, berilah aku petunjuk…
Ba’da Ashar salah satu temanku memanggilku
untuk menyampaikan sms dari kakak iparku.
“Aslm, af1 tolong sampaikan ke ukhti
fulanah “ibunya kritis di rumah sakit”, Syukron”.
Begitu kira-kira sms yang ku dapat.
Aku jadi teringat, baru saja kemarin
ibu menelfonku. Namun karena saat itu masih ada kegiatan kuliah, aku tidak bisa
menerima telfon darinya. Ingin rasanya aku marah, namun aku tahu itu tak akan mengubah
keadaan menjadi lebih baik.
Setelah beberapa menita aku menerima
sms itu, kakak perempuanku menelfon. Katanya aku harus pulang karena saat ini sakit
yang ibu derita cukup parah. Kemudian aku pun langsung meminta izin kepada murobbiku
untuk pulang.
Sesampainya di Jakarta, aku istirahat
sebentar. Tak kudapati Ayah di rumah. Dan itu berarti aku baru bisa menemuinya esok
hari.
HARAPAN ITU UNTUKNYA…
Sabtu itu aku pergi ke rumah sakit
bersama ayahku. Karena peraturan rumah sakit yang sangat ketat aku terpaksa harus
menunggu selama sepuluh menit sampai jam besuk tiba. Singkat cerita, aku dan kakakku
akhirnya bisa melihat ibu. Sosoknya, yang sangat kami rindukan…
Aku, ya aku, yang hanya bisa merasakan setetes
dari rasa perihnya. Setetes saja, telah membuat butiran air mataku berjatuhan.
Bagaimana jika aku berada di posisinya? Ibu yang katanya akhir-akhir ini terlihat
lebih sehat dari biasanya, tiba-tiba harus terbaring lemah tak berdaya berjuang
melawan penyakitnya. Padahal sebelum kejadian itu ibu masih baik-baik saja. Dokter
bilang, kalau ibuku mengalami pecahnya pembuluh darah pada otaknya, saat itu sudah
ada 11 titik yang bocor. Harapan untuk sembuh pun hanya ada 5 s/d 7 %
saja. Aku memang tidak terlalu faham akan penyakit yang ibu derita. Meski begitu,
doaku untuk nya tak penah terputus, berharap Allah akan memberikan keajaiban untuk
yang terbaik. Aku hanya ingin ibu bisa cepat sembuh dan bisa berkumpul ditengah-tengah
kami lagi.
6 hari sudah ibu di rumah sakit,
tapi ibu masih belum membuka matanya, walau hanya sebentar. Mungkin bisa dibilang
kalau ibu saat ini sedang mengalami koma. Lantunan Al-Qur’an juga do’a tak
pernah terhenti. Berharap akan ada keajaiban datang untuk ibu.
“Ibu kami disini … bangunlah…!”
Sampai pada
sore itu, tepatnya tanggal 8 mei 2012 jam 19.45 pm. “Ny.fulanah kritis, minta do’anya
aja dari keluarga” kata salah seorang perawat datang sambil memanggil ayahku. Ayah
pun langsung masuk bersama kakak perempuanku ke ruang dimana ibu dirawat. Setelah
lima menit, kakakku telah kembali keruang tunggu dengan butiran-butiran bening dari
matanya.
Kini ibu
telah tiada...
Tak tahan rasanya aku mendengar ucapan
kakakku, aku memeluknya erat. Kini … tetesan air mata itu sudah berubah menjadi
air hujan yang tak tertahankan lagi.
Ya Rabb… mampukah aku menghadapi semua
ini?
Pikiranku kembali
melintas pada dia yang kusayang. Apa yang sudah aku lakukan untuk membahagiakannya.
Adakah?
Semua mimpi itu
seakan telah lenyap. Aku rapuh…
Manusia memang
hanya bisa berencana, Tapi Allah tetaplah sang penentu. Sebelum ibu pergi,
banyak sekali mimpi-mimpi yang telah tertata rapi dalam catatan kami.
Jalan takdir memang mesti kujalani
dan itu yang mengharuskanku untuk melangkah dengan kenyataan sebuah takdir. Langkah
ini tak akan henti, meski terkadang aku terjatuh dan terkadang aku bangun darinya.
Manusia memang tak selamanya mampu menerima takdir. Begitupun dengan diriku. Apa
yang telah ditakdirkan oleh Allah, terkadang itu bukan suatu hal yang aku inginkan.
Aku yakin, semua manusia pasti pernah dan akan merasakan kehilangan, begitupun aku.
Merasakan kehilangan adalah mutlak.
Insya Allah, hanya takdir terindahlah yang Allah siapkan kepada
hambaNya.
Belajar memahami tiap skenarioNya…
Ya Rabb…
Jagalah dia, di kala penjagaanku tak sampai padanya. Sayangi
dia kala sayangku tak mampu merengkuh dalam dekapan nyata. Muliakan ia kala penghargaanku
tak mampu terangkum dalam kata yang sahaja. Karena Engkau punya segala yang tak
kupunya dan karena aku ingin selalu menjadi permata hatinya di dunia dan mengharap
bertemu dengannya di syurga… Amin
`Ashfara -rahmania`
0 komentar:
Posting Komentar