Sabtu, 13 Juli 2013

Bersamamu aku makin cinta

“Ibu mencintai dengan caranya sendiri, ayah pun mencintai dengan caranya sendiri. Kakak punya cara tersendiri dalam mencintai, adik pun punya cara tersendiri dalam mencintai. Teman dan sahabat juga punya cara tersendiri dalam mencintai, orang lain pun punya cara tersendiri. Cinta punya banyak warna, sebagaimana kita punya cara tersendiri dalam mencintai”.
Waktu terasa semakin berlalu, namun hingga kini kami masih membisu, terpekur dalam melodi kesunyian. Ayah, inginku menghadirkan kembali keceriaan yang kita ciptakan bersama dahulu. Ingin rasanya kembali ke masa lalu saat tidak ada rasa segan dan tertutup seperti yang ada pada hari ini. “Ayah kemana? Ko’ aku mau berangkat ayah malah pergi?”. Lagi-lagi pertanyaan itu muncul dalam benakku. Setidaknya mengantarku sampai ke dalam bis yang mengantar keberangkatanku saja ayah tidak bisa. Kenapa ayah?? Dan seakan ada sesuatu yang sedang berperang di dalam Hati ini.
Sampai pada saat itu, ayah mengantarku menuju keberangkatanku ke kota perantauan. Hanya pelukan hangat untukmu saat aku meninggalkanmu demi menuntut ilmu di kota ini. ketika itu aku melihat sosok keteguhanmu dibalik pandangan matamu yang berkaca-kaca karna perpisahan. Keridhaanmu menjadi peneguh dalam perantauanku ini, keikhlasanmu menguatkan kesabaran dalam perjuangan ini, dan untaian do’a dalam tangismu menjadi penyejuk hati saat galau menghampiri.
Sekarang aku baru faham alasan ayah sebenarnya, Hanya karna tak kuasa membiarkanku pergi jauh, ayah hampir tidak pernah menemani keberangkatanku menuju kota perantauanku.
Ayah, Apa kabar? Semoga Allah selalu menjagamu siang dan malam. Maaf jika aku jarang memberi kabar walau hanya sekadar SMS. Aku luluh dengan jawabanmu, “Ayah sehat, kamu pun harus jaga kesehatan. Ayah tahu kamu sangat sibuk. Belajarlah yang rajin”.
Aku tertohok, “sibuk?” Aku tidak sesibuk yang Ayah pikirkan. Hanya saja aku yang sering sombong dan menomorsatukan ego. Aku minta maaf Ayah. Jika di flash back, tentulah sikap yang kutunjukkan hari ini sangat jauh berbeda dengan apa yang engkau berikan padaku.
Aku sangat ingat betul ketika engkau dengan ikhlasnya menggendongku menuju rumah nenek karena bajir yang melanda pada kala itu. Kekhawatiranmu akan kesehatanku sangat kuhargai. Ayah, betapa hebat dirimu, dan aku selalu mengagumimu. Aku tak pernah menuliskan bahwa aku menginginkan sesuatu, tapi kau selalu tahu apa yang ku mau. Kau pun selalu mengerti saat aku merasa jenuh, saat aku sedih, saat aku senang, saat aku ingin memelukmu, dan saat aku merindukan ibu.
Ayah, aku mencintaimu seperti aku mencintai ibu.
“Dalam ukuran tertentu, kehilangan yang kau alami mungkin jauh lebih menyakitkan. Tetapi kita tidak sedang membicarakan ukuran relatif lebih atau kurang. Semua kehilangan itu menyakitkan. Apapun bentuk kehilangan itu, ketahuilah, cara terbaik untuk memahaminya adalah selalu dari sisi yang pergi. Bukan dari sisi yang ditinggalkan...”
Sekarang, walaupun tanpa ibu ayah tetap tegar menghadapi semuanya, seperti dulu. Ayah.  Engkau tak pernah lelah dan bosan mengajari kami. Engkau begitu indah mengajarkan makna perjuangan pada diri ini. Mengajarkan tentang bagaimana menjaga kobaran semangat juang agar tetap menyala terang dan tak mudah redup oleh cobaan yang menghadang. Engkau mengajari ku tentang sebuah arti tanggung jawab akan setiap kata yang terucap dan sikap yang terlukiskan. Engkau mengajari bagaimana memberi sesuatu yang dimiliki terbungkus tulusnya ikhlas, hingga diri ini mengerti indahnya berbagi. Mengajari diri ini, bagaimana menjaga dan membahagiakan orang-orang yang kita cintai. Sepenuh kasih serta rasa sayang yang mengalir pada setiap perbuatan hingga mereka merasakan syahdunya cinta yang terbukti nyata melalui kata dan perilaku. Do’amu senantiasa menghiasi setiap langkah perjuangan kami.
Ayah, satu kata penuh makna tentang perjuangan dan pengorbanan. Semoga diri ini bisa menjadi anak yang berbakti padamu, memberikan balasan yang terbaik dan terindah untukmu, sebagai kado cinta di dunia dan akhirat. Sadar bahwa semua yang kau berikan tak akan pernah sanggup untuk dibalas, berharap diri ini bisa menjagamu pada saat dirimu semakin rapuh termakan usia. Mengukirkan senyum-senyum kebahagiaan di saat kau menikmati masa tuamu, mengalirkan kasih sayang pada setiap sendi-sendi tubuh rentamu yang haus dan rindu akan cinta yang dapat menguatkan jiwa. Berharap di setiap doa diri ini bisa menjagamu hingga engkau kembali kepada-Nya....
Ayah, untuk sebuah hidayah yang Allah berikan semoga bisa kita jaga dengan baik. Aku sangat bersyukur memiliki ayah sepertimu. Bertanggung jawab, sabar, tekun, dan dekat dengan Allah. Apa lagi yang kuharapkan selain dari keempat poin itu? Bahkan jika poin terakhir saja ada pada dirimu, maka kesyukuran ini sudah cukup berlimpah, karena aku yakin kedekatan dengan Allah akan menghadirkan setiap perkara baik. Aku bangga padamu, Ayah.
Aku pun memiliki impian, Ayah. Dan itu juga melibatkan dirimu. Ditemani oleh doa- doamu, aku semakin optimis meraih impian itu. Aku merindumu, Ayah.
Ayah, bersamamu aku makin cinta. Aku tak punya materi yang mampu membalas jasamu tapi aku punya Allah di mana ku berdoa pada-Nya agar Dia senantiasa menempatkanmu di tempat terbaik-Nya. Dia memenuhi pintamu sebagaimana kau penuhi pintaku. Dia menjagamu melebihi kau menjagaku. Akhirnya semoga ayah baik-baik saja. Semoga Allah selalu menyayangimu dengan memberimu kekuatan untuk selalu menyayangiku.
`Syakira Ar-Ryhand `

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates