“Ibu mencintai dengan caranya sendiri, ayah pun mencintai
dengan caranya sendiri. Kakak punya cara tersendiri dalam mencintai, adik pun
punya cara tersendiri dalam mencintai. Teman dan sahabat juga punya cara
tersendiri dalam mencintai, orang lain pun punya cara tersendiri. Cinta punya
banyak warna, sebagaimana kita punya cara tersendiri dalam mencintai”.
Waktu terasa semakin berlalu, namun hingga kini kami
masih membisu, terpekur dalam melodi kesunyian. Ayah, inginku menghadirkan kembali keceriaan yang kita
ciptakan bersama dahulu. Ingin rasanya kembali ke masa lalu saat tidak ada rasa
segan dan tertutup seperti yang ada pada hari ini. “Ayah kemana? Ko’ aku mau
berangkat ayah malah pergi?”. Lagi-lagi pertanyaan itu muncul dalam
benakku. Setidaknya mengantarku sampai ke dalam bis yang mengantar
keberangkatanku saja ayah tidak bisa. Kenapa ayah?? Dan seakan ada sesuatu yang sedang berperang di dalam
Hati ini.
Sampai pada saat itu, ayah
mengantarku menuju keberangkatanku ke kota perantauan. Hanya pelukan hangat untukmu saat aku meninggalkanmu
demi menuntut ilmu di kota ini. ketika itu aku melihat sosok keteguhanmu
dibalik pandangan matamu yang berkaca-kaca karna perpisahan. Keridhaanmu
menjadi peneguh dalam perantauanku ini, keikhlasanmu menguatkan kesabaran dalam
perjuangan ini, dan untaian do’a dalam tangismu menjadi penyejuk hati saat
galau menghampiri.
Sekarang aku baru faham alasan
ayah sebenarnya, Hanya karna tak kuasa membiarkanku pergi jauh, ayah hampir
tidak pernah menemani keberangkatanku menuju kota perantauanku.
Ayah, Apa kabar? Semoga Allah selalu menjagamu siang dan malam. Maaf jika aku jarang memberi
kabar walau hanya sekadar SMS. Aku luluh dengan jawabanmu, “Ayah sehat, kamu
pun harus jaga kesehatan. Ayah tahu kamu sangat sibuk. Belajarlah yang rajin”.
Aku tertohok, “sibuk?” Aku tidak
sesibuk yang Ayah pikirkan. Hanya saja aku yang sering sombong dan
menomorsatukan ego. Aku minta maaf Ayah. Jika di flash back,
tentulah sikap yang kutunjukkan hari ini sangat jauh berbeda dengan apa yang
engkau berikan padaku.
Aku sangat ingat betul ketika
engkau dengan ikhlasnya menggendongku menuju rumah nenek karena bajir yang
melanda pada kala itu. Kekhawatiranmu akan kesehatanku sangat kuhargai. Ayah,
betapa hebat dirimu, dan aku selalu mengagumimu. Aku tak pernah menuliskan
bahwa aku menginginkan sesuatu, tapi kau selalu tahu apa yang ku mau. Kau pun
selalu mengerti saat aku merasa jenuh, saat aku sedih, saat aku senang, saat
aku ingin memelukmu, dan saat aku merindukan ibu.
Ayah, aku mencintaimu seperti aku
mencintai ibu.
“Dalam ukuran tertentu, kehilangan yang kau alami mungkin
jauh lebih menyakitkan. Tetapi kita tidak sedang membicarakan ukuran relatif
lebih atau kurang. Semua kehilangan itu menyakitkan. Apapun bentuk
kehilangan itu, ketahuilah, cara terbaik untuk memahaminya adalah selalu dari
sisi yang pergi. Bukan dari sisi yang ditinggalkan...”
Sekarang, walaupun tanpa ibu ayah tetap tegar menghadapi
semuanya, seperti dulu. Ayah. Engkau tak pernah lelah dan bosan mengajari
kami. Engkau begitu indah mengajarkan makna perjuangan pada diri ini.
Mengajarkan tentang bagaimana menjaga kobaran semangat juang agar tetap menyala
terang dan tak mudah redup oleh cobaan yang menghadang. Engkau mengajari ku
tentang sebuah arti tanggung jawab akan setiap kata yang terucap dan sikap yang
terlukiskan. Engkau mengajari bagaimana memberi sesuatu yang dimiliki terbungkus
tulusnya ikhlas, hingga diri ini mengerti indahnya berbagi. Mengajari diri ini,
bagaimana menjaga dan membahagiakan orang-orang yang kita cintai. Sepenuh kasih
serta rasa sayang yang mengalir pada setiap perbuatan hingga mereka merasakan
syahdunya cinta yang terbukti nyata melalui kata dan perilaku. Do’amu
senantiasa menghiasi setiap langkah perjuangan kami.
Ayah, satu kata penuh makna tentang perjuangan dan
pengorbanan. Semoga diri ini bisa menjadi anak yang berbakti padamu, memberikan
balasan yang terbaik dan terindah untukmu, sebagai kado cinta di dunia dan akhirat.
Sadar bahwa semua yang kau
berikan tak akan pernah sanggup untuk dibalas, berharap diri ini bisa menjagamu
pada saat dirimu semakin rapuh termakan usia. Mengukirkan senyum-senyum
kebahagiaan di saat kau menikmati masa tuamu, mengalirkan kasih sayang pada
setiap sendi-sendi tubuh rentamu yang haus dan rindu akan cinta yang dapat
menguatkan jiwa. Berharap di setiap doa diri ini bisa menjagamu hingga engkau
kembali kepada-Nya....
Ayah, untuk sebuah hidayah yang
Allah berikan semoga bisa kita jaga dengan baik. Aku sangat bersyukur memiliki
ayah sepertimu. Bertanggung jawab, sabar, tekun, dan dekat dengan Allah. Apa
lagi yang kuharapkan selain dari keempat poin itu? Bahkan jika poin terakhir
saja ada pada dirimu, maka kesyukuran ini sudah cukup berlimpah, karena aku
yakin kedekatan dengan Allah akan menghadirkan setiap perkara baik. Aku bangga
padamu, Ayah.
Aku pun memiliki impian, Ayah.
Dan itu juga melibatkan dirimu. Ditemani oleh doa- doamu, aku semakin optimis
meraih impian itu. Aku merindumu, Ayah.
Ayah,
bersamamu aku makin cinta. Aku tak punya materi yang mampu membalas jasamu tapi
aku punya Allah di mana ku berdoa pada-Nya agar Dia senantiasa menempatkanmu di
tempat terbaik-Nya. Dia memenuhi pintamu sebagaimana kau penuhi pintaku. Dia
menjagamu melebihi kau menjagaku. Akhirnya
semoga ayah baik-baik saja. Semoga Allah selalu menyayangimu dengan memberimu
kekuatan untuk selalu menyayangiku.
`Syakira Ar-Ryhand `
0 komentar:
Posting Komentar